Tersesat Di Surga

tafakur Comment( 0)

Assalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh

Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.

Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”

“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”

“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”

Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”

“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau.


Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Read more..


Memaklumi

Uncategories Comment( 0)

Kalau tidak punya keinginan untuk berusaha memaklumi orang lain, lupakanlah dakwah!

Dakwah diawali dengan sebuah pandangan.  Jika Anda memandang objek dakwah dengan mata memicing, wajah merenggut karena jijik, dan kata-kata yang penuh dengan aroma kekesalan, maka insya Allah tidak akan berhasil.  Perasaan benci pada penyimpangan memang wajar, namun benci kepada objek dakwah adalah sebuah blunder, karena jika tidak ada lagi penyimpangan, lantas untuk apa lagi ada dakwah?  Kekurangan objek dakwah adalah sebuah kewajaran (bahkan sebenarnya para pendakwah pun punya kekurangan), dan kenyataan ini harus diterima dengan lapang dada.

 

Kepada orang yang tidak pernah shalat, tidak perlu disuruh untuk konsekuen shalat lima waktu di Masjid.  Bukan berarti kewajiban itu hilang, namun untuk segala sesuatunya ada tahapannya.  Bagi orang-orang tertentu, bisa bicara akrab dengan aktifis dakwah pun sudah cukup bagus.

 

Bagi orang-orang yang makannya hanya sekali sehari, jangan dulu mengkritik caranya mencari makan dengan terlalu kaku.  Rokok memang haram, namun rasanya tidak bijak jika mengatakan kepada para tukang rokok yang kelaparan itu, “Bang, penghasilan Anda tidak halal.  Anda jualan barang haram, dan pendapatan Anda pun nggak akan berkah.  Gimana mau kaya kalau mencari duit dengan cara yang tidak diridhai Allah?”

 

Kalau mau berdakwah, kita memang harus keluar dari ‘logika pesantren’ atau ‘logika halaqah’.  Di dalam pesantren atau halaqah memang lebih nyaman.  Tinggal berikan dalil Al-Qur’an atau Al-Hadits, sampaikan pendapat ulama yang dipercaya, masalah selesai.  Semua orang puas, tidak ada sanggahan macam-macam.  Tapi dunia dakwah jauh lebih ‘liar’ daripada itu.  Ada fitnah, ada media massa yang suka ambil kesempatan, ada orang yang gemar bergunjing, ada yang tidak paham agama, dan banyak yang menggunakan kosa kata sama namun beda maknanya.

 

Alm. Ust. Rahmat Abdullah dulu pernah bercerita bahwa di masa Orde Baru, melaksanakan kegiatan tarbiyah di masjid-masjid bisa membawa seseorang ke penjara.  Oleh karena itu, jika aparat mempertanyakan, jawabannya harus ‘dimodifikasi’ kira-kira menjadi : “Kami sedang membina pemuda setempat supaya terhindar dari jerat narkoba dan hal-hal negatif lainnya.  Jadi kami berusaha supaya mereka bisa mengisi waktu mereka dengan hal-hal bermanfaat.”  Kalau jawaban yang diberikan adalah “Kami akan membina pemuda kampung sini dan mempertebal tsaqofah islamiyah mereka, agar mereka paham sepenuhnya bahwa syariat Islam adalah yang terbaik dan tak ada undang-undang lain yang lebih mumpuni daripada aturan-aturan Allah!”, nah mungkin yang beginilah yang kemungkinan besar akan diciduk dengan pasal subversi.

 

 

Dunia dakwah memang beda dengan dunia pesantren.  Anda tak bisa mengharapkan setiap Muslim paham bahwa ajaran Islam adalah aturan paling sempurna.  Di luar sana , masih banyak Muslim yang setengah yakin dengan agamanya sendiri, dan itu bukan murni kesalahan mereka.  Ada juga porsi kesalahan guru-guru agama di sekolah mereka dulu, pemerintah yang opresif terhadap gerakan dakwah, para ulama yang lebih banyak bercanda daripada berdakwah, atau orang tua yang terlanjur sekuler.  Kalau mereka ini dipaksa untuk langsung mengikuti logika ulama, maka dakwahlah yang akan runtuh berantakan. 

 

Analoginya sama saja dengan penderita sakit jantung.  Teoritis, mereka harus rajin olahraga untuk menjaga kondisi jantungnya.  Tapi karena sudah terlanjur sakit, maka tak mungkin langsung mengikuti standarnya orang sehat, apalagi atlet olimpiade.  Pemulihan kondisi harus dilakukan secara bertahap.  Semua dokter yang waras pasti akan berpendapat sama.

 

Pertanyaannya : apakah semua aktifis dakwah sudah ‘waras’?

 

Kenyataannya, tidak semua aktifis dakwah punya keinginan yang kuat untuk memaklumi objek dakwahnya.  Ada yang bertanya : mengapa sebuah partai dakwah justru ‘mesra’ dengan Slank dan Gigi?  Sebaliknya, mereka tak pernah mempertanyakan : jika Slank dan Gigi memutuskan untuk merapat ke partai dakwah, apa mesti ditolak mentah-mentah?  Jika mereka ingin mendekat, apakah kita harus bilang “Perbaiki dulu kelakuan antum, baru deket-deket sini!”?

 

Pertanyaan yang lebih cerdas lagi adalah : mengapa Rasulullah saw. bisa sabar melihat orang Badui kencing di dalam masjid, sementara para pengikutnya begitu susah memaklumi orang lain?

 

by. Akmal

 

Read more..

"ALLAH TAK AKAN INGKAR JANJI"

Uncategories Comment( 7)

 

 ALLAH TAK AKAN INGKAR JANJI" sesuatu yang sudah dijanjikan Allah tidak perlu kita risaukan! ... Kasih Allah tak bertepi, janji Allah pasti ditepati..

 

Saudara ku yang saling mencintai karena Allah,… 

 

Sungguh Allah akan membalas orang yang menginfakan hartanya dengan balasan berlipat ganda
dan Ia akan membalas amal baik kita 10 kali lipat..

Siapapun yang taat pada Allah dan RasulNya,
ia akan diberi pahala dua kali lipat serta rezeki yang banyak.

Allah tidak akan merubah keadaan kita. 
Bila kita sendiri tidak berusaha untuk merubahnya. 

Allah membuat rezeki manusia berbeda, 
Allah selalu membalas setiap kebaikan yang dilakukan hambaNya. 
Jangan pernah takut rugi menolong agamaNya, 
percayalah bahwa balasan dariNya sangat besar. 

Tugas kita hanya fokus pada ikhtiar, bukan pada hasil. 
Masalah hasil itu urusan Allah. 

Dalam kehidupan ini Allah Maha Adil, 
Allah melihat ukuran kehebatan dan kualitas manusia bukan dari rezekinya, 
tapi dari ketakwaannya. 

Allah tidak suka kepada orang yang “melirik” kenikmatan kehidupan orang lain, 
karena kenikmatan dunia bukan tujuan, 
mestinya yg dilirik itu ketakwaannya bukan duitny atau apa yg dimilikinya. 

Allah tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya. 
Allah tidak pernah menganiaya manusia, 
hal itu semata – mata agar ingat kepadaNya. 

Bila awan tidak menangis, mana mungkin taman akan tersenyum. 
Allah pasti menguji manusia dengan kebaikan dan keburukan, 
maka jangan terlalu senang jika kebaikan itu datang padamu 
atau bersedih jika keburukan itu datang dalam kehidupanmu. 

Kalau kita tidak mau menerima keburukan, 
maka jangan tinggal didunia, usahakan kita masuk ke syurgaNya. 

Buruk yang menimpa tidaklah selalu berarti jelek, 
begitu juga dengan senang tidaklah selalu berarti indah. 

Banyak kenikmatan yg dilipat di antara taring2 bencana, 
banyak kegembiraan yang menghadap arah, 
dimana disana musibah telah menanti. 

Allah memberikan syurga pada orang yg dapat menahan hawa nafsunya.

 

Read more..

Menyelesaikan Masalah

Sharing Comment( 1)

Alhamdulillah dapat ilmu yg bermanfaat, setidaknya untuk kita tafakuri bersama..

Bismillah....

* ketika masalah itu membuat / hampir putus asa : (QS. Al-Anbiya : 87) sebagaimana dikisahkan dari Nabi Yunus " dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap : "la ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazhalimin" (bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang2 yg dzolim)"

Read more..

InsyaAllah

Uncategories Comment( 2)

Assalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh

Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.

Saat itulah turun ayat menegur Nabi, "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (QS 18: 24)

Kata "Insya Allah" berarti "jika Allah menghendaki". Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata "insya Allah" menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.

Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.

Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata "insya Allah" sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata "Insya Allah" bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata "Insya Allah". Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata "insya Allah" keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.

Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan "insya Allah", lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna "insya Allah".

Read more..
design by Natty WP