samakah kita dengan setan??

Uncategories Comment( 0)








 

Bismillah…


Assalamualaikum Wr Wb…


            Salam ukhuwah… Salam cinta karena Alloh untuk semua sahabat yang saling mencintai karena Alloh. Salam bahagia untuk semua sahabat yang bertujuan hidup Dunia Bahagia Akhirat Syurga. Semoga kita digolongkan ke dalam mereka yang mampu meraih kebahagiaan yang sebenar-benarnya. Amin…



           


Sahabat yang dicintai karena Alloh, saya harap sahabat semua berkenan meluangkan waktunya sejenak untuk membaca artikel yang saya buat ini. Berikanlah hatimu untuk membaca artikel ini. Karena sesungguhnya artikel ini tak akan ada artinya jika sahabatku hanya membaca sekilas saja. Artikel ini akan berpengaruh jika kiranya sahabat berkenan untuk mentafakuri setiap kata yang ada di dalamnya. Semoga sahabat tak keberatan. Karena saya yakin, sahabat semua adalah insan-insan yang berhati lembut. Yaitu mereka yang selalu berkenan untuk mendengar masukan dan syaran dari samping kiri dan kananmu selama itu membawa kau lebih dekat pada tuhanmu. Maka lembutkanlah hatimu sahabat... Biarkan Alloh yang membimbing setiap hati-hati yang merindu akan pertemuan dengan Rabbnya.



         


   Sahabat mari kita tafakuri bersama kalam Alloh yang berikut ini:


    


        “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.(QS. Albaqarah 2: 34)”.


           


Syetan dikeluarkan Alloh Azza Wa Jalla dari syurga yang penuh kenikmatan. Karena keengganan mereka bersujud kepada adam. Dengan sombongnya mereka menyatakan bahwa mereka lebih baik daripada adam. Jadi mengapa pula mereka harus bersujud pada adam yang Alloh ciptakan dari tanah yang hina, sedangkan mereka Dia ciptakan dari api yang menurut mereka jauh lebih mulia daripada tanah. Tentu saja hal ini membuat Alloh murka dan mengeluarkan mereka karena sifat angkuhnya dank arena pembangkangan mereka terhadap perintah-Nya.


Sejenak membahas masalah syetan yang menolak untuk bersujud pada adam, Alloh meminta semua makhluq-Nya ketika itu untuk bersujud pada adam bukanlah karena adam layak untuk disembah ataupun karena Adam lebih mulia dari Makhluq Alloh yang lain. Karena hal ini jauh dari sifat Alloh yang Maha Adil pada setiap makhluq-Nya. Jadi tak mungkin jika Dia berat sebelah dalam penciptaan hamba-Nya. Akan tetapi hal ini karena Alloh ingin melihat dari para hamba-Nya, siapa kiranya yang benar-benar taat akan setiap perintah yang Dia berikan. Pada dasarnya ketika itu malaikatpun menanyakan kenapa kiranya Alloh hendak menciptakan manusia untuk memelihara bumi, sedangkan sudah menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluq yang merusak.


        


    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(QS Al-Baqarah 2: 30)


        


    Akan tetapi dengan ketaatan yang ada pada diri malaikat, maka merekapun menuruti perintah yang Alloh berikan. Nah jadi bedanya syetan dan malaikat adalah dari ketaatan mereka pada Alloh. Bukan dari bahan apakah mereka diciptakan?. Sama halnya dengan kita hamba-Nya, Dia melihat kita bukan dari pangkat, derajat, ataupun rupa. Akan tetapi Dia melihat, siapa kiranya diantara kita yang paling bertaqwa. Jadi Syetan dikeluarkan Alloh dari syurga karena mereka tidak Taat pada perintah-Nya.


      


 


      Sahabat... Jika kita tafakuri bersama, entah berapa kali kita membangkang dari perintah dan aturan main yang telah Dia berikan. Entah berapa kali kita menyia-nyiakan cinta-Nya. Dan entah berapa kali pula kita mengecewakan Dia dengan sikap kita yang tak bersyukur. Sahabat... malu rasanya ketika kita menatap sinis mereka yang kini berada dalam keadaan lebih lalai daripada kita. Padahal kita sendiri tak jauh berbeda dari mereka yang melalaikan perintah-Nya.


        


    Sering kita berkata bahwa setan adalah musuh nyata bagi kita, sering pula kita berkata bahwa tak selayaknya kita mengikuti hawa nafsu kita. Namun kenyataannya apa? Kita justru masih saja melanggar perintah-Nya, dan masih saja mengikuti hawa nafsu yang jelas-jelas hanya mengajak kita ke dalam keburukan. Lalu apa bedanya kita dengan syetan yang menolak untuk sujud pada adam ketika itu?


           


Sahabatku yang berhati lembut, tak peduli apa yang tengah kita lakukan. Tak peduli pula sebesar apa dosa kita. Alloh tengah menyediakan ampunan untuk kita yang besarnya melebihi dosa kita sendiri. Selama kita benar-benar memohon ampun pada-Nya. Jangan tunggu besok atau lusa, sekaranglah saatnya kita untuk selalu memohon ampun pada-Nya. Tak malukah kita pada Dia yang selalu menatap? Pada Dia yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita, pada Dia yang selalu melindungi dan menjaga kita selalu.


         


   Sahabat kita diciptakan Alloh sebagai khilafah di muka bumi ini, semata-mata hanya untuk Taat pada Alloh dan beribadah kepada-Nya.


 


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(QS Ad-dzariyat 51: 56)


        


    Saya akui, untuk taat pada setiap aturan main-Nya sangatlah sulit, karena kita memiliki hawa nafsu yang senantiasa dijadikan senjata oleh mereka para penggoda untuk menjerumuskan kita. Seta hawa nafsu yang selalu mengajak pemiliknya untuk membangkang pada perintah Alloh SWT. Akan tetapi, bukankah Alloh tengah memerintahkan pada kita agar kita mampu menahan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Sesuai dengan kalamNya berikut ini. Mari kembali kita kita tafakuri lagi kalam Alloh berikut ini.


 


Dan adapun orang-orang yang takut kepada Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya(QS An-Naziat(70):40,41).


        


    Alloh Azza Wa Jalla tengah memerintahkan pada kita untuk senantiasa menahan diri dari keinginan hawa nafsu yang kita miliki. Bukankah menahan hawa nafsu adalah salah satu aturan main yang Dia berikan agar kita bisa selamat di alam persinggahan ini. Lalu apakah mungkin Alloh membuat aturan main ataupun perintah yang sekiranya tak mampu untuk kita lakukan?


 


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.(QS Al-Muminuun (23): 62)


           


Rasanya tak mungkin jika Alloh memerintahkan dan memberikan suatu perintah atau ujian  yang tak mampu untuk kita lakukan. Jika Alloh tengah memerintahkan kita untuk menahan hawa nafsu kita, itu artinya Dia telah begitu percaya pada kita bahwa kita akan mampu menahan hawa nafsu yang kita miliki. Lalu mau sampai kapan kita membiarkan diri untuk berpikiran bahwa kita tak mampu menahan hawa nafsu? Buang jauh-jauh pikiran seperti itu, karena itu tak membuatmu lebih dekat dengan tujuan hidup DUNIA BAHAGIA AKHIRAT SYURGA. Hal itu hanya akan membuatmu semakin jauh dari-Nya.


           


Sungguh sahabatku, jika saat ini kita masih saja dibutakan oleh hawa nafsu. Lalu entah sampai kapan kita membiarkan diri melanggar perintah-Nya. Lalu apakah bedanya dengan mereka para penggoda itu? Sahabatku yang sungguh memiliki hati yang mulia.. Engkaulah insan-insan pilihan itu, yang Dia berikan nikmat islam dalam setiap helaan nafas kita. Engkaulah insan-insan berhati lembut itu, yang selalu berusaha untuk membuat diri lebih baik disetiap waktunya.


           


Tak peduli ujian apa yang kini menimpamu, tak peduli pula seberat apapun beban yang kau pikul. Tetap tegar dan bersabarlah... Karena Alloh begitu percaya punggungmu akan kuat memikulnya. Tak peduli nikmat apapun yang Dia berikan, baik itu kita sadari atau tidak. Tetaplah bersyukur selalu... Karena Dia telah percaya kita akan selalu bersyukur atas setiap karunia yang Dia berikan.Jangan biarkan hawa nafsu itu membuat kita termasuk dari mereka yang tak bersabar. Dan jangan pula biarkan hawa nafsu itu menjadikan kita, termasuk mereka yang tidak bersyukur.


 


Sahabatku... Mari kita tafakuri bersama, andai kata kita mampu menahan hawa nafsu yang ada dalam diri kita. Bukankah Alloh telah menjanjikan syurga untuk kita. Syurga sahabatku....? Syurga yang tak ada kesedihan di dalamnya, maka pengorbananmu untuk melawan hawa nafsu itu akan berbuah syurga. Kesedihanmu kini tak ada artinya dengan syurga yang penuh kenikmatan. Lalu tunggu apa lagi? Kuatkan imanmu, yakini setiap janji-Nya pada-Mu. Karena Alloh tak mungkin ingkar janji. Biarlah Alloh menghadiahkanmu Syurga, karena engkau layak mendapatkannya....


           


Jangan biarkan diri kita sama dengan syetan hanya karena kita tak mampu menahan haqwa nafsu kita. Jangan biarkan diri kita mengikuti langkah-langkah syetan, karena mereka hanya ingin membuat kita sengsara di dunia dan neraka. Ikutilah perintah-Nya, karena Alloh begitu mencintai kita, karena Dia begitu ingin memasukan setiap hamba-Nya ke dalam Syurga. Dia menunggumu untuk mampu melihat wajah-Nya dan bermanja-manja disisi-Nya. Para Rosul dan orang-orang sholeh telah menunggu kita untuk menajdi bagian dari mereka. Syurgapun telah menunggu kita untuk menjadi penghuninya. Lalu tunggu apa lagi? Buang keinginan untuk menuruti hawa nafsu itu. Biarkan hatimu bersih ketika bertemu dengan-Nya. Jangan biarkan dirimu disamakan dengan syetan yang terlaknat itu. Jika saat ini kita masih saja menuruti hawa nafsu, apalah bedanya kita dengan syetan?


Read more..


kuraih cintaku dengan gendongan

Nikah Comment( 1)








cerita yang menggugah siapapun baik yg sudah menikah maupun yang akan menikah.. semoga bermanfaat dan terima kasihku padamu sahabat yang telah mengirimkan cerita ini untuk ku. uhibbukifillah ta’ala.. :)


Malam itu ku tatap wajah kedua putraku yang tertidur. Wajah lugu mereka mencerminkan masih bersihnya hati mereka, aku sungguh bahagia karena Alloh mengaruniakan kedua putra yang sholeh dalam hidupku. Mereka adalah sumber kebahagiaan dalam hidupku, terlebih dengan kondisi rumah tanggaku saat ini. Akhir-akhir ini aku seolah kehilangan suamiku, dia yang dulu begitu hangat, entah kenapa kini berubah bersikap dingin. Suamiku yang dulu begitu perhatian, sekarang berubah menjadi bersikap acuh padaku. Entah apa yang terjadi padanya, setiap waktu ku coba untuk bertanya pada hatiku. Apakah mungkin hal ini terjadi karena salahku dalam bersikap padanya.


 Tiba-tiba saja lamunanku buyar, ketika suamiku memanggilku dari arah ruang TV. Aku segera berlari menuju tempatnya berada. Ku tatap lekat wajahnya yang begitu serius menonton televisi. Dia tersenyum dan menatapku dengan lembut, lalu memintaku duduk disampingnya. Akupun menurut dengan apa yang dia minta. Kami berbincang beberapa saat. Hingga tiba-tiba saja ku lihat mimik wajahnya berubah ketika dia ingin bicara serius denganku tentang suatu hal. Akupun mendengarkan dengan seksama sesuatu yang dia sampaikan padaku.


Pagi-pagi sekali setelah selesai sholat subuh suamiku sudah pergi ke kantornya, katanya ada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Entah apa itu, tapi yang pasti hal itu telah membuatku semakin cemas. Padahal dia sama sekali belum sarapan. Sepertinya dia menghindariku setelah pembicaraan kami yang semalam. Setelah pembicaraan kami semalam rasanya aku dan suamiku semakin jauh saja. Hanya rasa pedih yang kurasakan setelah mendengar ucapannya semalam. Istri mana yang tak akan gundah hatinya ketika mengalami hal yang kini kualami.


Aku tak tahu apa kiranya kesalahanku, hanya saja setelah hampir empat tahun kami menikah mulai terasa sesuatu yang hambar dalam kehidupan kami berumahtangga. Suasana romantis yang dulu mampu kami bangun seolah lenyap begitu saja. Aku sibuk dalam rutinitasku sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi rumah dan anak-anak,sedangkan suamiku sibuk dalam rutinitasnya di kantor. Sebenarnya rasa cintaku padanya masih sama besarnya dengan ketika awal pernikahan kami, namun entah mengapa kini aku sulit mengekspresikan cinta yang ku rasakan. Dan rupanya hal ini jauh lebih dirasakan oleh suamiku, hingga puncaknya ku rasakan tadi malam.


Secara mengejutkan dia menyatakan ingin menikah lagi. Mendengar kata-katanya ini tentu saja aku kaget bukan main. Selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang berbakti dan setia, namun tak cukupkah hal itu baginya. Dia katakan dia  sudah memiliki calonnya, dan insyaalloh akhwat yang dia ajukan adalah akhwat yang sholeha. Dia mengenal akhwat itu dalam acara ta’lim yang diadakan kantornya, setelah beberapa lama mengenal akhwat itu rupanya timbul kecenderungan diantara mereka. Dan akhirnya daripada mereka berbuat dosa, lebih baik mereka menikah saja. Suamiku meminta izin padaku untuk menikahinya, dan apapun syarat yang aku ajukan akan dia penuhi. Asalkan aku ridho mengizinkan dia untuk menikah lagi.


Acara ta’lim? entah sudah berapa lama aku tak mengikuti acara-acara majelis ilmu. Aku terlalu sibuk dalam rutinitasku mendidik anak-anak. Agar mereka bisa menjadi anak-anak yang sholeh. Lagipula suamiku lebih menghendaki aku untuk berada di rumah daripada mengikuti kajian-kajian di luar rumah. Biar dia yang mengikutinya, dan nanti ketika selesai dalam ikhtiar ilmu, dia akan membaginya denganku di rumah. Itulah kesepakatan kami diawal-awal pernikahan. Namun justru hal itulah yang kini menjadi pemicu hambarnya rumah tangga kami. Suamiku bilang kini semangat dakwahku tak seperti dulu lagi, aku terlalu sibuk dalam mengurusi anak-anak. Dan hal inilah yang membuat rasa cintanya padaku berkurang, padahal aku melakukan hal inipun atas dasar rasa taatku padanya. Sungguhkah dia telah lupa? Hanya rasa gundah yang terasa kini, entah apa yang harus aku lakukan. Mampukah aku untuk ikhlas mengizinkan suamiku menikah lagi.


Sudah tiga hari dari pembicaraan kami yang terakhir, setelah itu kami jadi lebih jarang bertegur sapa. Padahal kami tidur dalam satu ranjang. Setiap malam ku tatap dalam-dalam wajah suamiku yang tengah lelap tertidur. Ku cium keningnya sebelumku melakukan sholat malam, ku harap ada cara untuk mengubah keputusannya. Karena sungguh aku belum mampu untuk ikhlas melihatnya menikah lagi. Aku takut dengan tak ikhlasnya diriku justru akan membuat cinta Illahi menjauh dariku. “Oh Ya..Rabb.. Tolong beri petunjuk hambaMu ini..”


Malam itu suamiku sedang duduk di beranda kamar, kebetulan anak-anakpun sudah tertidur. Aku beranikan diri untuk menghampirinya, dan ku bahas kembali pembicaraan kami tempo hari. Setelah ku istikharahkan berulang kali, akhirnya aku sampai pada keputusan bahwa aku mengizinkan dia menikah lagi. Dan akupun mengajukan syarat agar aku mampu untuk ikhlas membagi cintanya dengan wanita lain. Dia terkejut mendengar bahwa aku telah ridho dia menikah lagi, diapun menanyakan apa kiranya syarat yang ku ajukan.


Kembali dia terkejut dengan syarat yang aku ajukan, katanya syarat yang aku ajukan terlalu mudah. Dia bertanya jika ada syarat lain yang aku ingin ajukan, apapun akan dia penuhi ujarnya dengan semangat. Melihat ekspresi bahagianya ketika itu, membuat hatiku semakin sakit. Betapa cintanya dia pada akhwat itu, sampai syarat yang begitu menyusahkanpun akan dia penuhi. “Ya Rabb… sungguh aku cemburu. Sungguhkah aku mampu untuk ikhlas membiarkan dia menikah lagi?”


                Syarat yang ku ajukan sederhana saja, aku memintanya untuk menggendong dan mencium keningku sebelum kami pergi tidur selama satu bulan. Setelah sebulan selesai, maka aku izinkan dia menikah dengan akhwat itu. Hari-hari kami lalui begitu saja, setiap malam sebelumku tidur suamiku menggendongku ke tempat tidur. Diciumnya keningku, diselimutinya tubuhku dan diucapkannya kata-kata romantic yang dulu begitu jarang ku dengar terucap dari lisannya. Malam-malam seperti ini menjadi begitu berarti bagiku, kini akupun lebih mampu untuk mengekspresikan rasa cintaku. Setiap malam kami sering tahajjud bersama, tadarus Qur’an bersama, bertafakur bersama dan bahkan kini setiap pagi kami jadi sering berbalik puisi cinta di meja makan. Sampai-sampai anak-anak kami yang masih kecil geleng-geleng kepala melihat kedua orangtuanya yang seperti anak muda yang sedang pacaran.


                Sungguh aku bahagia dengan suasana rumah kami sekarang ini. Setiap pagi, siang,sore dan malam suamiku sering berkata-kata romantic padaku. Dan akupun mampu menjawab setiap kata romantisnya. Namun jika ku bayangkan kembali tentang hal ini, maka hatiku kembali sedih. Karena suasana seperti ini hanya akan mampu aku rasakan sebulan saja. Setelah itu, akan ada hati lain yang tersimpan di hati suamiku. Tapi sudahlah aku tak ingin bersedih hati lagi, aku hanya ingin menikmati kebahagiaan yang kurasakan kini. Biarlah Alloh saja yang mengatur scenario kehidupan rumah tangga kami.


                Tak terasa sebulan telah berlalu, kini telah tiba batas waktu kesepakatan kami. Malam ini adalah malam terakhir suamiku menggendongku ke tempat tidur. Ku tatap wajahnya dalam-dalam dan ku tunggu dia untuk membahas masalah kami tempo hari. Tapi dia tidak sedikitpun membahas hal itu, entah dia lupa atau tidak. Justru suasana indah yang aku rasakan malam itu. Waktupun terus berjalan dan tak terasa sudah dua bulan berlalu, namun kembali suamiku tak membahas akan hal ini. Aku semakin heran dengan sikapnya ini. Kenapa dia jadi seperti ini?


                Akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakan hal ini padanya, karena aku sungguh khawatir dengan yang terjadi pada suamiku. Malam hari sebelumkami tidur, aku menanyakan hal ini padanya. Ku tatap wajahnya dalam-dalam. Dia hanya tertunduk dan kemudian menangis. Melihatnya seperti itu tentu saja aku semakin mengkhawatirkannya, apa kiranya yang telah terjadi?. Kemudian dia menegakan kepalanya, dan menatap wajahku dengan lembut. Dia ucapkan kalimat-kalimat indah dari lisannya, dan hal itu membuatku begitu tentram dan bahagia.


                Malam itu dia meminta maaf padaku karena telah membuat hatiku menjadi sedih. Dia katakan bahwa dia mengurungkan niatnya untuk menikah lagi. Setelah sebulan kami merasakan suasana romantic, rasa cintanya yang dulu pudar kini jelas kembali. Rasa cintanya yang dulu hilang, kini telah mampu dia rasakan kembali. Selama ini dia mengalami kehampaan dalam berumahtangga denganku, kemudian dia bertemu dengan akhwat itu. Dan timbulah perasaan senang di hatinya pada akhwat itu, namun yang dia rasakan bukanlah cinta tapi sebuah rasa yang sedikit mengisi kehampaan yang dia rasakan selama ini. Setelah kami berusaha kembali membangun suasana romantic, rasa hampa itu sirna dan rasa cintalah yang memenuhi hatinya kini. Suamikupun menyadari, bahwa dia tak mencintai akhwat. Yang sesungguhnya dia cintai adalah aku istrinya. Dan rasanya tak layak dia membagi cintanya  untuk akhwat lain. Diapun sudah mengatakan hal ini dan meminta pengertian pada akhwat itu, dan segala puji bagi Alloh karena akhwat itupun memberi pengertian. Hanya salam dan kata maaf yang terkirim lewat lisan suamiku dari akhwat itu. Dia bahagia melihat aku dan suamiku bahagia. Akupun berterima kasih pada akhwat itu, semoga dia diberikan jodoh yang terbaik dari sisiNya.


                Dalam berumah tangga memang tak jarang akan terasa suasana hampa dan hambar, namun kita harus mampu membuang perasaan-perasaan seperti itu dengan selalu berusaha membangun suasana romantic. Dan itulah yang aku rasakan kini. Ku dapatkan kembali cintaku dengan sebuah gendongan dan kecupan. Semoga rumahtangga ini berjalan di atas ridhoNya, hingga rumah tangga ini mampu menghantarkan kami pada syurgaNya dan Diapun mempertemukan kami kembali sebagai sepasang suami istri di Syurga yang penuh kenikmatan, amin….


Read more..

Untuk Istri - Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita

Nikah Comment( 1)

Untuk semua wanita yang bergelar istri maupun yang bakal menjadi istri... mari kita hayati apa yang terbetik dalam syair dibawah ini.



Untuk Istri





Pernikahan ataupun perkawinan,

Membuka tabir rahasia,





Suami yang menikahi kamu,

Tidaklah semulia Muhammad,

Tidaklah setakwa Ibrahim,

Pun tidak setabah Ayub,

Atau pun segagah Musa,

Apalagi setampan Yusuf





Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,

Yang punya cita-cita,

Membangun keturunan yang soleh ...





Pernikahan ataupun Perkawinan,

Mengajar kita kewajiban bersama,





Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,

Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,



Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun kenakalannya,

Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,

Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,

Seandainya Suami masinis  yang lancang, sabarlah memperingatkannya ...





Pernikahan ataupun Perkawinan,

Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,

Untuk belajar meniti sabar dan redha,

Karena memiliki suami yang tak segagah mana,

Justeru Kamu akan tersentak dari alpa,





Kamu bukanlah Khadijah,



yang begitu sempurna di dalam menjaga

Pun bukanlah Hajar,

yang begitu setia dalam sengsara

Cuma wanita akhir zaman,

Yang berusaha menjadi solehah...





Amin.

Read more..

Barat dan Timur

Sharing Comment( 3)

Simplifikasi. Itulah yang sering kita lakukan ketika kita berbicara tentang "barat" dan "timur". "Barat", apa boleh buat, seringkali kita lukiskan dengan individualisme, kapitalisme, sekular dan free sex. Sedangkan "timur" kita deskripsikan dengan gotong royong, religius, ramah, dan serba kekeluargaan. Image tersebut sering kita terima tanpa sikap kritis, atau sekurang-kurangnya, mempertanyakan benar tidaknya hal tersebut.



Lebih jauh lagi, kita sering bicara akan "barat" dengan konotasi non-Muslim dan "timur" sebagai Muslim, walaupun kita tahu bahwa "barat" tidak selamanya berarti non-Muslim apalagi anti Islam, sebagaimana "timur" tidak selalu berarti pendukung gerakan Islam.



Celakanya, simplifikasi ini juga digunakan oleh mereka yang sering kita sebut "barat". "Barat" sering memandang "timur" sebagai sebuah ancaman (sampai-sampai Professor Samuel Huntington pun menjadikannya alasan utk meramal terjadinya the clash of civilisation). "Timur" sering juga dikelirulukiskan sebagai anti modern, tidak berperadaban, etos kerja lemah, tidak rasional dan teroris serta fundamentalis.



Simplifikasi seperti itu sering di hamburkan di media masa, televisi, mimbar Jum’at, dan radio serta internet. Tanpa sadar image tersebut kita wariskan secara turun temerun; antar generasi. Kita bicarakan "barat" dengan penuh sinisme, dan, sebaliknya, kita sebut "timur" dengan romantisme. "Barat" telah menjadi "minkum" (golongan kalian) dan "timur" kita anggap sebagai "minna" (golongan kami). Tiba-tiba kita jadi senang membicarakan dunia kita yang berbeda dengan dunia lain (tentu seraya menepuk dada bahwa dunia lain itu tidak seindah dunia kita).



Hal ini tentu saja bertentangan dengan ayat Qur’an ketika Allah berfirman: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."(Qs 2: 115)



Simplifikasi memang terkadang mengasyikkan, namun sering kali menyesatkan kita. Dari simplifikasi biasa lahir generalisasi. Siapa yang kebetulan berbeda dengan kita baik dari cara berpakaian, cara beribadah, cara berdiskusi maupun cara berpikir bukan disebut "minna" tetapi "minkum." Kita jadi sibuk mengidentifikasi mana golongan kita dan mana golongan di luar kita.



Contoh lain simplifikasi adalah ketika seorang Brother dari jama’ah tabligh menggugat ceramah Professor Howard Brasted di Masjid UNE yang bertajuk "Islam in the Modern World". Brother asal Maroko itu berkata, "Kami menolak modernisme karena isteri kami tidak boleh mengumbar aurat!" Professor Brasted menjawab sambil tersenyum, "Anda keliru mengartikan modernisme dengan membuka aurat!" Ini sama halnya dengan sebagian remaja putri kita yang memakai pakaian tipis dan ketat serta mini hanya karena ingin mengikuti arus modernisasi.



Lagi-lagi simplifikasi!



Read more..

Bunglon dan Kelelawar

Cerita Islam Comment( 1)

Suatu kali pernah timbul pertentangan antara beberapa ekor kelelawar dan seekor bunglon. Perkelahian antara mereka sudah sedemikian sengitnya, sehingga pertentangan itu sudah melampaui batas. Para kelelawar setuju bahwa jika saat petang menjelang malam telah menyebar melalui ceruk lingkaran langit, dan matahari telah turun di hadapan bintang-bintang menuju lingkup terbenamnya matahari, mereka akan bersama-sama menyerang si bunglon dan, setelah menjadikannya tawanan mereka, menghukumnya sesuka hati dan melampiaskan dendam. Ketika saat yang dinantikan tiba, mereka menyerang dengan tiba-tiba, dan semuanya bersama-sama menyeret bunglon yang malang dan tak berdaya itu ke dalam sarang mereka. Dan malam itu mereka memenjarakannya.



Ketika fajar tiba, mereka bertanya-tanya apakah sebaiknya bunglon itu disiksa saja. Mereka semua setuju bahwa dia harus dibunuh, tetapi mereka masih merencanakan bagaimana cara terbaik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Akhirnya mereka memutuskan bahwa siksaan yang paling menyakitkan adalah dihadapkan pada matahari. Tentu saja, mereka sendiri tahu bahwa tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan, selain berada dekat dengan matahari; dan, dengan membuat analogi dengan keadaan mereka sendiri, mereka mengancam supaya dia memandang matahari. Bunglon itu, sudah pasti, tidak mengharapkan yang lebih baik lagi. ’Penghukuman’ semacam itu persis seperti yang diinginkannya, sebagaimana dikatakan oleh Husayn Manshur,



Bunuhlah aku, kawan-kawanku, sebab dengan terbunuhnya diriku, aku akan hidup. Hidupku ada dalam kematianku, dan kematianku ada dalam hidupku. (keterangan: baris-baris ini terdapat dalam Al-Hallaj, 14.1)



Maka ketika matahari terbit, mereka membawanya keluar dari rumah mereka yang menyedihkan agar dia tersiksa oleh cahaya matahari, siksaan yang sesungguhnya merupakan jalan keselamatan baginya.



Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur dalam peperangan di jalan Allah itu mati. Tidak! Bahkan mereka hidup. Mereka mendapat rizki dan Tuhannya. (QS 3:169)



Kalau saja para kelelawar itu tahu betapa murah hati tindakan mereka terhadap bunglon itu, dan betapa mereka telah berbuat keliru, karena mereka justru memberinya kesenangan, mereka pasti akan mati sedih. Bu-Sulayman Darani berkata, "Jika orang-orang yang lalai itu tahu betapa mereka telah mengabaikan kesenangan orang-orang yang sadar, mereka pasti akan mati karena kecewa." (dikutip dalam bahasa Persia ’Aththar, Tadzkirah, hal. 282)

Read more..

BERSIKAP LEMAH LEMBUT

Uncategories Comment( 1)









Kelemahlembutan adalah akhlak yang mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dengan kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya sengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika ia hadapi dengan ilmu dan kelemahlembutan, ia akan mulia di sisi Allah Ta’ala dan makhluk-makhluk-Nya. Orang yang memiliki akhlak lemah lembut ini, Insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.






Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidak pernah terpisah dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia akan gagal untuk menyelesaikan problemnya. Dengan agungnya akhlak ini hingga Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa sallam memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya : " Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)." (H.R Muslim).



 


Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seseorang sahabat yang meminta nasehat : " Janganlah kamu marah." Dan beliau mengulangi berkali-kali dengan bersabda : "Janganlah kamu marah." (HR. Bukhari). Dari hadist ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga Rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah.


 


 


Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh dorongan hawa nafsu yang menyebabkan pelakunya melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dari kelemah lembutan. Didalam hadist yang shahih Rasulullah bersabda : "Bukanlah dikatakan seorang yang kuat dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (Muttafaqun ’Alaih).


 


 


Ulama telah menjelaskan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit marah yang tercela yang ada pada seorang hamba, yaitu :


1.       Berdoa kepada Allah "Azza wa Jalla yang membimbing dan menunjuki hamba-hamaba-Nya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri mereka. Allah berfirman : "Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan." (Ghafir : 60).


2.       Terus menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil dan istighfar karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tentram dengan mengingatn-Nya. Dia berfirman : "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." (Ar-Ra’d : 28).


3.       Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan amarah dan balasan bagi orang yang mampu menahan amarahnya, seperti sabda Nabi: "Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya dihadapan para makhluk-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya." (HR. Tirmidzi, ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahihul jami’ No.6398).


4.       Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya ia duduk, dan jikalau ia duduk hendaklah ia berbaring, sebagaimana perintah Rasulullah dalam sabda beliau : "Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah berbaring." (Al-Misykat 5114).


5.       Berlindung dari setan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya. Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemah lembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemah lembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya, bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Yang demikian ini telah disabdakan oleh Rasulullah dalam hadist berikut : "Tidaklah kelembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek. "(HR. Muslim) Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala urusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan."(HR. Muslim). Bersegeralah menghiasi diri dengan akhlak terpuji yang dimiliki rasulullah dan dicintai Allah ini. Dan jauhilah kemarahan, kebengisan dan ketidak ramahan, karena yang demikian akan menghinakan derajat pelakunya dan membuat keonaran dikalangan manusia serta menimbun dosa disisi Allah ta’ala. Ingatlah selalu sabda Rasulullah : "Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan."(HR Muslim). Wallahu a’lam


 


Read more..
design by Natty WP