Kuraih Cintaku Dengan Gendongan

Comment( 0)

cerita yang menggugah siapapun baik yg sudah menikah maupun yang akan menikah.. semoga bermanfaat dan terima kasihku padamu sahabat yang telah mengirimkan cerita ini untuk ku. uhibbukifillah ta’ala.. :)

Malam itu ku tatap wajah kedua putraku yang tertidur. Wajah lugu mereka mencerminkan masih bersihnya hati mereka, aku sungguh bahagia karena Alloh mengaruniakan kedua putra yang sholeh dalam hidupku. Mereka adalah sumber kebahagiaan dalam hidupku, terlebih dengan kondisi rumah tanggaku saat ini. Akhir-akhir ini aku seolah kehilangan suamiku, dia yang dulu begitu hangat, entah kenapa kini berubah bersikap dingin. Suamiku yang dulu begitu perhatian, sekarang berubah menjadi bersikap acuh padaku. Entah apa yang terjadi padanya, setiap waktu ku coba untuk bertanya pada hatiku. Apakah mungkin hal ini terjadi karena salahku dalam bersikap padanya.

 Tiba-tiba saja lamunanku buyar, ketika suamiku memanggilku dari arah ruang TV. Aku segera berlari menuju tempatnya berada. Ku tatap lekat wajahnya yang begitu serius menonton televisi. Dia tersenyum dan menatapku dengan lembut, lalu memintaku duduk disampingnya. Akupun menurut dengan apa yang dia minta. Kami berbincang beberapa saat. Hingga tiba-tiba saja ku lihat mimik wajahnya berubah ketika dia ingin bicara serius denganku tentang suatu hal. Akupun mendengarkan dengan seksama sesuatu yang dia sampaikan padaku.

Pagi-pagi sekali setelah selesai sholat subuh suamiku sudah pergi ke kantornya, katanya ada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Entah apa itu, tapi yang pasti hal itu telah membuatku semakin cemas. Padahal dia sama sekali belum sarapan. Sepertinya dia menghindariku setelah pembicaraan kami yang semalam. Setelah pembicaraan kami semalam rasanya aku dan suamiku semakin jauh saja. Hanya rasa pedih yang kurasakan setelah mendengar ucapannya semalam. Istri mana yang tak akan gundah hatinya ketika mengalami hal yang kini kualami.

Aku tak tahu apa kiranya kesalahanku, hanya saja setelah hampir empat tahun kami menikah mulai terasa sesuatu yang hambar dalam kehidupan kami berumahtangga. Suasana romantis yang dulu mampu kami bangun seolah lenyap begitu saja. Aku sibuk dalam rutinitasku sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi rumah dan anak-anak,sedangkan suamiku sibuk dalam rutinitasnya di kantor. Sebenarnya rasa cintaku padanya masih sama besarnya dengan ketika awal pernikahan kami, namun entah mengapa kini aku sulit mengekspresikan cinta yang ku rasakan. Dan rupanya hal ini jauh lebih dirasakan oleh suamiku, hingga puncaknya ku rasakan tadi malam.

Secara mengejutkan dia menyatakan ingin menikah lagi. Mendengar kata-katanya ini tentu saja aku kaget bukan main. Selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang berbakti dan setia, namun tak cukupkah hal itu baginya. Dia katakan dia  sudah memiliki calonnya, dan insyaalloh akhwat yang dia ajukan adalah akhwat yang sholeha. Dia mengenal akhwat itu dalam acara ta’lim yang diadakan kantornya, setelah beberapa lama mengenal akhwat itu rupanya timbul kecenderungan diantara mereka. Dan akhirnya daripada mereka berbuat dosa, lebih baik mereka menikah saja. Suamiku meminta izin padaku untuk menikahinya, dan apapun syarat yang aku ajukan akan dia penuhi. Asalkan aku ridho mengizinkan dia untuk menikah lagi.

Acara ta’lim? entah sudah berapa lama aku tak mengikuti acara-acara majelis ilmu. Aku terlalu sibuk dalam rutinitasku mendidik anak-anak. Agar mereka bisa menjadi anak-anak yang sholeh. Lagipula suamiku lebih menghendaki aku untuk berada di rumah daripada mengikuti kajian-kajian di luar rumah. Biar dia yang mengikutinya, dan nanti ketika selesai dalam ikhtiar ilmu, dia akan membaginya denganku di rumah. Itulah kesepakatan kami diawal-awal pernikahan. Namun justru hal itulah yang kini menjadi pemicu hambarnya rumah tangga kami. Suamiku bilang kini semangat dakwahku tak seperti dulu lagi, aku terlalu sibuk dalam mengurusi anak-anak. Dan hal inilah yang membuat rasa cintanya padaku berkurang, padahal aku melakukan hal inipun atas dasar rasa taatku padanya. Sungguhkah dia telah lupa? Hanya rasa gundah yang terasa kini, entah apa yang harus aku lakukan. Mampukah aku untuk ikhlas mengizinkan suamiku menikah lagi.

Sudah tiga hari dari pembicaraan kami yang terakhir, setelah itu kami jadi lebih jarang bertegur sapa. Padahal kami tidur dalam satu ranjang. Setiap malam ku tatap dalam-dalam wajah suamiku yang tengah lelap tertidur. Ku cium keningnya sebelumku melakukan sholat malam, ku harap ada cara untuk mengubah keputusannya. Karena sungguh aku belum mampu untuk ikhlas melihatnya menikah lagi. Aku takut dengan tak ikhlasnya diriku justru akan membuat cinta Illahi menjauh dariku. “Oh Ya..Rabb.. Tolong beri petunjuk hambaMu ini..”

Malam itu suamiku sedang duduk di beranda kamar, kebetulan anak-anakpun sudah tertidur. Aku beranikan diri untuk menghampirinya, dan ku bahas kembali pembicaraan kami tempo hari. Setelah ku istikharahkan berulang kali, akhirnya aku sampai pada keputusan bahwa aku mengizinkan dia menikah lagi. Dan akupun mengajukan syarat agar aku mampu untuk ikhlas membagi cintanya dengan wanita lain. Dia terkejut mendengar bahwa aku telah ridho dia menikah lagi, diapun menanyakan apa kiranya syarat yang ku ajukan.

Kembali dia terkejut dengan syarat yang aku ajukan, katanya syarat yang aku ajukan terlalu mudah. Dia bertanya jika ada syarat lain yang aku ingin ajukan, apapun akan dia penuhi ujarnya dengan semangat. Melihat ekspresi bahagianya ketika itu, membuat hatiku semakin sakit. Betapa cintanya dia pada akhwat itu, sampai syarat yang begitu menyusahkanpun akan dia penuhi. “Ya Rabb… sungguh aku cemburu. Sungguhkah aku mampu untuk ikhlas membiarkan dia menikah lagi?”

                Syarat yang ku ajukan sederhana saja, aku memintanya untuk menggendong dan mencium keningku sebelum kami pergi tidur selama satu bulan. Setelah sebulan selesai, maka aku izinkan dia menikah dengan akhwat itu. Hari-hari kami lalui begitu saja, setiap malam sebelumku tidur suamiku menggendongku ke tempat tidur. Diciumnya keningku, diselimutinya tubuhku dan diucapkannya kata-kata romantic yang dulu begitu jarang ku dengar terucap dari lisannya. Malam-malam seperti ini menjadi begitu berarti bagiku, kini akupun lebih mampu untuk mengekspresikan rasa cintaku. Setiap malam kami sering tahajjud bersama, tadarus Qur’an bersama, bertafakur bersama dan bahkan kini setiap pagi kami jadi sering berbalik puisi cinta di meja makan. Sampai-sampai anak-anak kami yang masih kecil geleng-geleng kepala melihat kedua orangtuanya yang seperti anak muda yang sedang pacaran.

                Sungguh aku bahagia dengan suasana rumah kami sekarang ini. Setiap pagi, siang,sore dan malam suamiku sering berkata-kata romantic padaku. Dan akupun mampu menjawab setiap kata romantisnya. Namun jika ku bayangkan kembali tentang hal ini, maka hatiku kembali sedih. Karena suasana seperti ini hanya akan mampu aku rasakan sebulan saja. Setelah itu, akan ada hati lain yang tersimpan di hati suamiku. Tapi sudahlah aku tak ingin bersedih hati lagi, aku hanya ingin menikmati kebahagiaan yang kurasakan kini. Biarlah Alloh saja yang mengatur scenario kehidupan rumah tangga kami.

                Tak terasa sebulan telah berlalu, kini telah tiba batas waktu kesepakatan kami. Malam ini adalah malam terakhir suamiku menggendongku ke tempat tidur. Ku tatap wajahnya dalam-dalam dan ku tunggu dia untuk membahas masalah kami tempo hari. Tapi dia tidak sedikitpun membahas hal itu, entah dia lupa atau tidak. Justru suasana indah yang aku rasakan malam itu. Waktupun terus berjalan dan tak terasa sudah dua bulan berlalu, namun kembali suamiku tak membahas akan hal ini. Aku semakin heran dengan sikapnya ini. Kenapa dia jadi seperti ini?

                Akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakan hal ini padanya, karena aku sungguh khawatir dengan yang terjadi pada suamiku. Malam hari sebelumkami tidur, aku menanyakan hal ini padanya. Ku tatap wajahnya dalam-dalam. Dia hanya tertunduk dan kemudian menangis. Melihatnya seperti itu tentu saja aku semakin mengkhawatirkannya, apa kiranya yang telah terjadi?. Kemudian dia menegakan kepalanya, dan menatap wajahku dengan lembut. Dia ucapkan kalimat-kalimat indah dari lisannya, dan hal itu membuatku begitu tentram dan bahagia.

                Malam itu dia meminta maaf padaku karena telah membuat hatiku menjadi sedih. Dia katakan bahwa dia mengurungkan niatnya untuk menikah lagi. Setelah sebulan kami merasakan suasana romantic, rasa cintanya yang dulu pudar kini jelas kembali. Rasa cintanya yang dulu hilang, kini telah mampu dia rasakan kembali. Selama ini dia mengalami kehampaan dalam berumahtangga denganku, kemudian dia bertemu dengan akhwat itu. Dan timbulah perasaan senang di hatinya pada akhwat itu, namun yang dia rasakan bukanlah cinta tapi sebuah rasa yang sedikit mengisi kehampaan yang dia rasakan selama ini. Setelah kami berusaha kembali membangun suasana romantic, rasa hampa itu sirna dan rasa cintalah yang memenuhi hatinya kini. Suamikupun menyadari, bahwa dia tak mencintai akhwat. Yang sesungguhnya dia cintai adalah aku istrinya. Dan rasanya tak layak dia membagi cintanya  untuk akhwat lain. Diapun sudah mengatakan hal ini dan meminta pengertian pada akhwat itu, dan segala puji bagi Alloh karena akhwat itupun memberi pengertian. Hanya salam dan kata maaf yang terkirim lewat lisan suamiku dari akhwat itu. Dia bahagia melihat aku dan suamiku bahagia. Akupun berterima kasih pada akhwat itu, semoga dia diberikan jodoh yang terbaik dari sisiNya.

                Dalam berumah tangga memang tak jarang akan terasa suasana hampa dan hambar, namun kita harus mampu membuang perasaan-perasaan seperti itu dengan selalu berusaha membangun suasana romantic. Dan itulah yang aku rasakan kini. Ku dapatkan kembali cintaku dengan sebuah gendongan dan kecupan. Semoga rumahtangga ini berjalan di atas ridhoNya, hingga rumah tangga ini mampu menghantarkan kami pada syurgaNya dan Diapun mempertemukan kami kembali sebagai sepasang suami istri di Syurga yang penuh kenikmatan, amin….





One Response to Kuraih Cintaku Dengan Gendongan

Leave a Reply

design by Natty WP