Kalau tidak punya keinginan untuk berusaha memaklumi orang lain, lupakanlah dakwah!
Dakwah diawali dengan sebuah pandangan. Jika Anda memandang objek dakwah dengan mata memicing, wajah merenggut karena jijik, dan kata-kata yang penuh dengan aroma kekesalan, maka insya Allah tidak akan berhasil. Perasaan benci pada penyimpangan memang wajar, namun benci kepada objek dakwah adalah sebuah blunder, karena jika tidak ada lagi penyimpangan, lantas untuk apa lagi ada dakwah? Kekurangan objek dakwah adalah sebuah kewajaran (bahkan sebenarnya para pendakwah pun punya kekurangan), dan kenyataan ini harus diterima dengan lapang dada.
Kepada orang yang tidak pernah shalat, tidak perlu disuruh untuk konsekuen shalat lima waktu di Masjid. Bukan berarti kewajiban itu hilang, namun untuk segala sesuatunya ada tahapannya. Bagi orang-orang tertentu, bisa bicara akrab dengan aktifis dakwah pun sudah cukup bagus.
Bagi orang-orang yang makannya hanya sekali sehari, jangan dulu mengkritik caranya mencari makan dengan terlalu kaku. Rokok memang haram, namun rasanya tidak bijak jika mengatakan kepada para tukang rokok yang kelaparan itu, “Bang, penghasilan Anda tidak halal. Anda jualan barang haram, dan pendapatan Anda pun nggak akan berkah. Gimana mau kaya kalau mencari duit dengan cara yang tidak diridhai Allah?”
Kalau mau berdakwah, kita memang harus keluar dari ‘logika pesantren’ atau ‘logika halaqah’. Di dalam pesantren atau halaqah memang lebih nyaman. Tinggal berikan dalil Al-Qur’an atau Al-Hadits, sampaikan pendapat ulama yang dipercaya, masalah selesai. Semua orang puas, tidak ada sanggahan macam-macam. Tapi dunia dakwah jauh lebih ‘liar’ daripada itu. Ada fitnah, ada media massa yang suka ambil kesempatan, ada orang yang gemar bergunjing, ada yang tidak paham agama, dan banyak yang menggunakan kosa kata sama namun beda maknanya.
Alm. Ust. Rahmat Abdullah dulu pernah bercerita bahwa di masa Orde Baru, melaksanakan kegiatan tarbiyah di masjid-masjid bisa membawa seseorang ke penjara. Oleh karena itu, jika aparat mempertanyakan, jawabannya harus ‘dimodifikasi’ kira-kira menjadi : “Kami sedang membina pemuda setempat supaya terhindar dari jerat narkoba dan hal-hal negatif lainnya. Jadi kami berusaha supaya mereka bisa mengisi waktu mereka dengan hal-hal bermanfaat.” Kalau jawaban yang diberikan adalah “Kami akan membina pemuda kampung sini dan mempertebal tsaqofah islamiyah mereka, agar mereka paham sepenuhnya bahwa syariat Islam adalah yang terbaik dan tak ada undang-undang lain yang lebih mumpuni daripada aturan-aturan Allah!”, nah mungkin yang beginilah yang kemungkinan besar akan diciduk dengan pasal subversi.
Dunia dakwah memang beda dengan dunia pesantren. Anda tak bisa mengharapkan setiap Muslim paham bahwa ajaran Islam adalah aturan paling sempurna. Di luar sana , masih banyak Muslim yang setengah yakin dengan agamanya sendiri, dan itu bukan murni kesalahan mereka. Ada juga porsi kesalahan guru-guru agama di sekolah mereka dulu, pemerintah yang opresif terhadap gerakan dakwah, para ulama yang lebih banyak bercanda daripada berdakwah, atau orang tua yang terlanjur sekuler. Kalau mereka ini dipaksa untuk langsung mengikuti logika ulama, maka dakwahlah yang akan runtuh berantakan.
Analoginya sama saja dengan penderita sakit jantung. Teoritis, mereka harus rajin olahraga untuk menjaga kondisi jantungnya. Tapi karena sudah terlanjur sakit, maka tak mungkin langsung mengikuti standarnya orang sehat, apalagi atlet olimpiade. Pemulihan kondisi harus dilakukan secara bertahap. Semua dokter yang waras pasti akan berpendapat sama.
Pertanyaannya : apakah semua aktifis dakwah sudah ‘waras’?
Kenyataannya, tidak semua aktifis dakwah punya keinginan yang kuat untuk memaklumi objek dakwahnya. Ada yang bertanya : mengapa sebuah partai dakwah justru ‘mesra’ dengan Slank dan Gigi? Sebaliknya, mereka tak pernah mempertanyakan : jika Slank dan Gigi memutuskan untuk merapat ke partai dakwah, apa mesti ditolak mentah-mentah? Jika mereka ingin mendekat, apakah kita harus bilang “Perbaiki dulu kelakuan antum, baru deket-deket sini!”?
Pertanyaan yang lebih cerdas lagi adalah : mengapa Rasulullah saw. bisa sabar melihat orang Badui kencing di dalam masjid, sementara para pengikutnya begitu susah memaklumi orang lain?
by. Akmal
