Memaklumi

Uncategories Comment( 0)

Kalau tidak punya keinginan untuk berusaha memaklumi orang lain, lupakanlah dakwah!


Dakwah diawali dengan sebuah pandangan.  Jika Anda memandang objek dakwah dengan mata memicing, wajah merenggut karena jijik, dan kata-kata yang penuh dengan aroma kekesalan, maka insya Allah tidak akan berhasil.  Perasaan benci pada penyimpangan memang wajar, namun benci kepada objek dakwah adalah sebuah blunder, karena jika tidak ada lagi penyimpangan, lantas untuk apa lagi ada dakwah?  Kekurangan objek dakwah adalah sebuah kewajaran (bahkan sebenarnya para pendakwah pun punya kekurangan), dan kenyataan ini harus diterima dengan lapang dada.


 


Kepada orang yang tidak pernah shalat, tidak perlu disuruh untuk konsekuen shalat lima waktu di Masjid.  Bukan berarti kewajiban itu hilang, namun untuk segala sesuatunya ada tahapannya.  Bagi orang-orang tertentu, bisa bicara akrab dengan aktifis dakwah pun sudah cukup bagus.


 


Bagi orang-orang yang makannya hanya sekali sehari, jangan dulu mengkritik caranya mencari makan dengan terlalu kaku.  Rokok memang haram, namun rasanya tidak bijak jika mengatakan kepada para tukang rokok yang kelaparan itu, “Bang, penghasilan Anda tidak halal.  Anda jualan barang haram, dan pendapatan Anda pun nggak akan berkah.  Gimana mau kaya kalau mencari duit dengan cara yang tidak diridhai Allah?”


 


Kalau mau berdakwah, kita memang harus keluar dari ‘logika pesantren’ atau ‘logika halaqah’.  Di dalam pesantren atau halaqah memang lebih nyaman.  Tinggal berikan dalil Al-Qur’an atau Al-Hadits, sampaikan pendapat ulama yang dipercaya, masalah selesai.  Semua orang puas, tidak ada sanggahan macam-macam.  Tapi dunia dakwah jauh lebih ‘liar’ daripada itu.  Ada fitnah, ada media massa yang suka ambil kesempatan, ada orang yang gemar bergunjing, ada yang tidak paham agama, dan banyak yang menggunakan kosa kata sama namun beda maknanya.


 


Alm. Ust. Rahmat Abdullah dulu pernah bercerita bahwa di masa Orde Baru, melaksanakan kegiatan tarbiyah di masjid-masjid bisa membawa seseorang ke penjara.  Oleh karena itu, jika aparat mempertanyakan, jawabannya harus ‘dimodifikasi’ kira-kira menjadi : “Kami sedang membina pemuda setempat supaya terhindar dari jerat narkoba dan hal-hal negatif lainnya.  Jadi kami berusaha supaya mereka bisa mengisi waktu mereka dengan hal-hal bermanfaat.”  Kalau jawaban yang diberikan adalah “Kami akan membina pemuda kampung sini dan mempertebal tsaqofah islamiyah mereka, agar mereka paham sepenuhnya bahwa syariat Islam adalah yang terbaik dan tak ada undang-undang lain yang lebih mumpuni daripada aturan-aturan Allah!”, nah mungkin yang beginilah yang kemungkinan besar akan diciduk dengan pasal subversi.


 


 



Dunia dakwah memang beda dengan dunia pesantren.  Anda tak bisa mengharapkan setiap Muslim paham bahwa ajaran Islam adalah aturan paling sempurna.  Di luar sana , masih banyak Muslim yang setengah yakin dengan agamanya sendiri, dan itu bukan murni kesalahan mereka.  Ada juga porsi kesalahan guru-guru agama di sekolah mereka dulu, pemerintah yang opresif terhadap gerakan dakwah, para ulama yang lebih banyak bercanda daripada berdakwah, atau orang tua yang terlanjur sekuler.  Kalau mereka ini dipaksa untuk langsung mengikuti logika ulama, maka dakwahlah yang akan runtuh berantakan. 



 


Analoginya sama saja dengan penderita sakit jantung.  Teoritis, mereka harus rajin olahraga untuk menjaga kondisi jantungnya.  Tapi karena sudah terlanjur sakit, maka tak mungkin langsung mengikuti standarnya orang sehat, apalagi atlet olimpiade.  Pemulihan kondisi harus dilakukan secara bertahap.  Semua dokter yang waras pasti akan berpendapat sama.


 


Pertanyaannya : apakah semua aktifis dakwah sudah ‘waras’?


 


Kenyataannya, tidak semua aktifis dakwah punya keinginan yang kuat untuk memaklumi objek dakwahnya.  Ada yang bertanya : mengapa sebuah partai dakwah justru ‘mesra’ dengan Slank dan Gigi?  Sebaliknya, mereka tak pernah mempertanyakan : jika Slank dan Gigi memutuskan untuk merapat ke partai dakwah, apa mesti ditolak mentah-mentah?  Jika mereka ingin mendekat, apakah kita harus bilang “Perbaiki dulu kelakuan antum, baru deket-deket sini!”?


 


Pertanyaan yang lebih cerdas lagi adalah : mengapa Rasulullah saw. bisa sabar melihat orang Badui kencing di dalam masjid, sementara para pengikutnya begitu susah memaklumi orang lain?


 


by. Akmal


 

Read more..


"ALLAH TAK AKAN INGKAR JANJI"

Uncategories Comment( 7)

 



 ALLAH TAK AKAN INGKAR JANJI" sesuatu yang sudah dijanjikan Allah tidak perlu kita risaukan! ... Kasih Allah tak bertepi, janji Allah pasti ditepati..


 


Saudara ku yang saling mencintai karena Allah,… 


 



Sungguh Allah akan membalas orang yang menginfakan hartanya dengan balasan berlipat ganda

dan Ia akan membalas amal baik kita 10 kali lipat..



Siapapun yang taat pada Allah dan RasulNya,

ia akan diberi pahala dua kali lipat serta rezeki yang banyak.



Allah tidak akan merubah keadaan kita. 

Bila kita sendiri tidak berusaha untuk merubahnya. 



Allah membuat rezeki manusia berbeda, 

Allah selalu membalas setiap kebaikan yang dilakukan hambaNya. 

Jangan pernah takut rugi menolong agamaNya, 

percayalah bahwa balasan dariNya sangat besar. 



Tugas kita hanya fokus pada ikhtiar, bukan pada hasil. 

Masalah hasil itu urusan Allah. 



Dalam kehidupan ini Allah Maha Adil, 

Allah melihat ukuran kehebatan dan kualitas manusia bukan dari rezekinya, 

tapi dari ketakwaannya. 



Allah tidak suka kepada orang yang “melirik” kenikmatan kehidupan orang lain, 

karena kenikmatan dunia bukan tujuan, 

mestinya yg dilirik itu ketakwaannya bukan duitny atau apa yg dimilikinya. 



Allah tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya. 

Allah tidak pernah menganiaya manusia, 

hal itu semata – mata agar ingat kepadaNya. 



Bila awan tidak menangis, mana mungkin taman akan tersenyum. 

Allah pasti menguji manusia dengan kebaikan dan keburukan, 

maka jangan terlalu senang jika kebaikan itu datang padamu 

atau bersedih jika keburukan itu datang dalam kehidupanmu. 



Kalau kita tidak mau menerima keburukan, 

maka jangan tinggal didunia, usahakan kita masuk ke syurgaNya. 



Buruk yang menimpa tidaklah selalu berarti jelek, 

begitu juga dengan senang tidaklah selalu berarti indah. 



Banyak kenikmatan yg dilipat di antara taring2 bencana, 

banyak kegembiraan yang menghadap arah, 

dimana disana musibah telah menanti. 



Allah memberikan syurga pada orang yg dapat menahan hawa nafsunya.



 

Read more..

InsyaAllah

Uncategories Comment( 2)

Assalamu’alaykum Warohmatullah Wabarokatuh


Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.



Saat itulah turun ayat menegur Nabi, "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (QS 18: 24)



Kata "Insya Allah" berarti "jika Allah menghendaki". Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata "insya Allah" menunjukkan kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan ilahi.



Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.



Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu. Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata "insya Allah" sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita menjawab dengan kata "Insya Allah" bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata "Insya Allah". Begitu pula halnya ketika kita berjanji, sering kali kata "insya Allah" keluar begitu saja sebagai alat basa-basi pergaulan.



Yang benar adalah, ketika kita diundang atau berjanji pada orang lain, kita ucapkan "insya Allah", lalu kita berusaha memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu, maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna "insya Allah".



Read more..

samakah kita dengan setan??

Uncategories Comment( 0)








 

Bismillah…


Assalamualaikum Wr Wb…


            Salam ukhuwah… Salam cinta karena Alloh untuk semua sahabat yang saling mencintai karena Alloh. Salam bahagia untuk semua sahabat yang bertujuan hidup Dunia Bahagia Akhirat Syurga. Semoga kita digolongkan ke dalam mereka yang mampu meraih kebahagiaan yang sebenar-benarnya. Amin…



           


Sahabat yang dicintai karena Alloh, saya harap sahabat semua berkenan meluangkan waktunya sejenak untuk membaca artikel yang saya buat ini. Berikanlah hatimu untuk membaca artikel ini. Karena sesungguhnya artikel ini tak akan ada artinya jika sahabatku hanya membaca sekilas saja. Artikel ini akan berpengaruh jika kiranya sahabat berkenan untuk mentafakuri setiap kata yang ada di dalamnya. Semoga sahabat tak keberatan. Karena saya yakin, sahabat semua adalah insan-insan yang berhati lembut. Yaitu mereka yang selalu berkenan untuk mendengar masukan dan syaran dari samping kiri dan kananmu selama itu membawa kau lebih dekat pada tuhanmu. Maka lembutkanlah hatimu sahabat... Biarkan Alloh yang membimbing setiap hati-hati yang merindu akan pertemuan dengan Rabbnya.



         


   Sahabat mari kita tafakuri bersama kalam Alloh yang berikut ini:


    


        “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.(QS. Albaqarah 2: 34)”.


           


Syetan dikeluarkan Alloh Azza Wa Jalla dari syurga yang penuh kenikmatan. Karena keengganan mereka bersujud kepada adam. Dengan sombongnya mereka menyatakan bahwa mereka lebih baik daripada adam. Jadi mengapa pula mereka harus bersujud pada adam yang Alloh ciptakan dari tanah yang hina, sedangkan mereka Dia ciptakan dari api yang menurut mereka jauh lebih mulia daripada tanah. Tentu saja hal ini membuat Alloh murka dan mengeluarkan mereka karena sifat angkuhnya dank arena pembangkangan mereka terhadap perintah-Nya.


Sejenak membahas masalah syetan yang menolak untuk bersujud pada adam, Alloh meminta semua makhluq-Nya ketika itu untuk bersujud pada adam bukanlah karena adam layak untuk disembah ataupun karena Adam lebih mulia dari Makhluq Alloh yang lain. Karena hal ini jauh dari sifat Alloh yang Maha Adil pada setiap makhluq-Nya. Jadi tak mungkin jika Dia berat sebelah dalam penciptaan hamba-Nya. Akan tetapi hal ini karena Alloh ingin melihat dari para hamba-Nya, siapa kiranya yang benar-benar taat akan setiap perintah yang Dia berikan. Pada dasarnya ketika itu malaikatpun menanyakan kenapa kiranya Alloh hendak menciptakan manusia untuk memelihara bumi, sedangkan sudah menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluq yang merusak.


        


    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(QS Al-Baqarah 2: 30)


        


    Akan tetapi dengan ketaatan yang ada pada diri malaikat, maka merekapun menuruti perintah yang Alloh berikan. Nah jadi bedanya syetan dan malaikat adalah dari ketaatan mereka pada Alloh. Bukan dari bahan apakah mereka diciptakan?. Sama halnya dengan kita hamba-Nya, Dia melihat kita bukan dari pangkat, derajat, ataupun rupa. Akan tetapi Dia melihat, siapa kiranya diantara kita yang paling bertaqwa. Jadi Syetan dikeluarkan Alloh dari syurga karena mereka tidak Taat pada perintah-Nya.


      


 


      Sahabat... Jika kita tafakuri bersama, entah berapa kali kita membangkang dari perintah dan aturan main yang telah Dia berikan. Entah berapa kali kita menyia-nyiakan cinta-Nya. Dan entah berapa kali pula kita mengecewakan Dia dengan sikap kita yang tak bersyukur. Sahabat... malu rasanya ketika kita menatap sinis mereka yang kini berada dalam keadaan lebih lalai daripada kita. Padahal kita sendiri tak jauh berbeda dari mereka yang melalaikan perintah-Nya.


        


    Sering kita berkata bahwa setan adalah musuh nyata bagi kita, sering pula kita berkata bahwa tak selayaknya kita mengikuti hawa nafsu kita. Namun kenyataannya apa? Kita justru masih saja melanggar perintah-Nya, dan masih saja mengikuti hawa nafsu yang jelas-jelas hanya mengajak kita ke dalam keburukan. Lalu apa bedanya kita dengan syetan yang menolak untuk sujud pada adam ketika itu?


           


Sahabatku yang berhati lembut, tak peduli apa yang tengah kita lakukan. Tak peduli pula sebesar apa dosa kita. Alloh tengah menyediakan ampunan untuk kita yang besarnya melebihi dosa kita sendiri. Selama kita benar-benar memohon ampun pada-Nya. Jangan tunggu besok atau lusa, sekaranglah saatnya kita untuk selalu memohon ampun pada-Nya. Tak malukah kita pada Dia yang selalu menatap? Pada Dia yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita, pada Dia yang selalu melindungi dan menjaga kita selalu.


         


   Sahabat kita diciptakan Alloh sebagai khilafah di muka bumi ini, semata-mata hanya untuk Taat pada Alloh dan beribadah kepada-Nya.


 


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(QS Ad-dzariyat 51: 56)


        


    Saya akui, untuk taat pada setiap aturan main-Nya sangatlah sulit, karena kita memiliki hawa nafsu yang senantiasa dijadikan senjata oleh mereka para penggoda untuk menjerumuskan kita. Seta hawa nafsu yang selalu mengajak pemiliknya untuk membangkang pada perintah Alloh SWT. Akan tetapi, bukankah Alloh tengah memerintahkan pada kita agar kita mampu menahan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Sesuai dengan kalamNya berikut ini. Mari kembali kita kita tafakuri lagi kalam Alloh berikut ini.


 


Dan adapun orang-orang yang takut kepada Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya(QS An-Naziat(70):40,41).


        


    Alloh Azza Wa Jalla tengah memerintahkan pada kita untuk senantiasa menahan diri dari keinginan hawa nafsu yang kita miliki. Bukankah menahan hawa nafsu adalah salah satu aturan main yang Dia berikan agar kita bisa selamat di alam persinggahan ini. Lalu apakah mungkin Alloh membuat aturan main ataupun perintah yang sekiranya tak mampu untuk kita lakukan?


 


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.(QS Al-Muminuun (23): 62)


           


Rasanya tak mungkin jika Alloh memerintahkan dan memberikan suatu perintah atau ujian  yang tak mampu untuk kita lakukan. Jika Alloh tengah memerintahkan kita untuk menahan hawa nafsu kita, itu artinya Dia telah begitu percaya pada kita bahwa kita akan mampu menahan hawa nafsu yang kita miliki. Lalu mau sampai kapan kita membiarkan diri untuk berpikiran bahwa kita tak mampu menahan hawa nafsu? Buang jauh-jauh pikiran seperti itu, karena itu tak membuatmu lebih dekat dengan tujuan hidup DUNIA BAHAGIA AKHIRAT SYURGA. Hal itu hanya akan membuatmu semakin jauh dari-Nya.


           


Sungguh sahabatku, jika saat ini kita masih saja dibutakan oleh hawa nafsu. Lalu entah sampai kapan kita membiarkan diri melanggar perintah-Nya. Lalu apakah bedanya dengan mereka para penggoda itu? Sahabatku yang sungguh memiliki hati yang mulia.. Engkaulah insan-insan pilihan itu, yang Dia berikan nikmat islam dalam setiap helaan nafas kita. Engkaulah insan-insan berhati lembut itu, yang selalu berusaha untuk membuat diri lebih baik disetiap waktunya.


           


Tak peduli ujian apa yang kini menimpamu, tak peduli pula seberat apapun beban yang kau pikul. Tetap tegar dan bersabarlah... Karena Alloh begitu percaya punggungmu akan kuat memikulnya. Tak peduli nikmat apapun yang Dia berikan, baik itu kita sadari atau tidak. Tetaplah bersyukur selalu... Karena Dia telah percaya kita akan selalu bersyukur atas setiap karunia yang Dia berikan.Jangan biarkan hawa nafsu itu membuat kita termasuk dari mereka yang tak bersabar. Dan jangan pula biarkan hawa nafsu itu menjadikan kita, termasuk mereka yang tidak bersyukur.


 


Sahabatku... Mari kita tafakuri bersama, andai kata kita mampu menahan hawa nafsu yang ada dalam diri kita. Bukankah Alloh telah menjanjikan syurga untuk kita. Syurga sahabatku....? Syurga yang tak ada kesedihan di dalamnya, maka pengorbananmu untuk melawan hawa nafsu itu akan berbuah syurga. Kesedihanmu kini tak ada artinya dengan syurga yang penuh kenikmatan. Lalu tunggu apa lagi? Kuatkan imanmu, yakini setiap janji-Nya pada-Mu. Karena Alloh tak mungkin ingkar janji. Biarlah Alloh menghadiahkanmu Syurga, karena engkau layak mendapatkannya....


           


Jangan biarkan diri kita sama dengan syetan hanya karena kita tak mampu menahan haqwa nafsu kita. Jangan biarkan diri kita mengikuti langkah-langkah syetan, karena mereka hanya ingin membuat kita sengsara di dunia dan neraka. Ikutilah perintah-Nya, karena Alloh begitu mencintai kita, karena Dia begitu ingin memasukan setiap hamba-Nya ke dalam Syurga. Dia menunggumu untuk mampu melihat wajah-Nya dan bermanja-manja disisi-Nya. Para Rosul dan orang-orang sholeh telah menunggu kita untuk menajdi bagian dari mereka. Syurgapun telah menunggu kita untuk menjadi penghuninya. Lalu tunggu apa lagi? Buang keinginan untuk menuruti hawa nafsu itu. Biarkan hatimu bersih ketika bertemu dengan-Nya. Jangan biarkan dirimu disamakan dengan syetan yang terlaknat itu. Jika saat ini kita masih saja menuruti hawa nafsu, apalah bedanya kita dengan syetan?


Read more..

BERSIKAP LEMAH LEMBUT

Uncategories Comment( 1)









Kelemahlembutan adalah akhlak yang mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dengan kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya sengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika ia hadapi dengan ilmu dan kelemahlembutan, ia akan mulia di sisi Allah Ta’ala dan makhluk-makhluk-Nya. Orang yang memiliki akhlak lemah lembut ini, Insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.






Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidak pernah terpisah dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia akan gagal untuk menyelesaikan problemnya. Dengan agungnya akhlak ini hingga Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa sallam memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya : " Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)." (H.R Muslim).



 


Akhlak mulia ini terkadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seseorang sahabat yang meminta nasehat : " Janganlah kamu marah." Dan beliau mengulangi berkali-kali dengan bersabda : "Janganlah kamu marah." (HR. Bukhari). Dari hadist ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga Rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah.


 


 


Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh dorongan hawa nafsu yang menyebabkan pelakunya melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dari kelemah lembutan. Didalam hadist yang shahih Rasulullah bersabda : "Bukanlah dikatakan seorang yang kuat dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah." (Muttafaqun ’Alaih).


 


 


Ulama telah menjelaskan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit marah yang tercela yang ada pada seorang hamba, yaitu :


1.       Berdoa kepada Allah "Azza wa Jalla yang membimbing dan menunjuki hamba-hamaba-Nya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri mereka. Allah berfirman : "Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan." (Ghafir : 60).


2.       Terus menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahlil dan istighfar karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tentram dengan mengingatn-Nya. Dia berfirman : "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." (Ar-Ra’d : 28).


3.       Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan amarah dan balasan bagi orang yang mampu menahan amarahnya, seperti sabda Nabi: "Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya dihadapan para makhluk-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemauannya." (HR. Tirmidzi, ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat Shahihul jami’ No.6398).


4.       Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya ia duduk, dan jikalau ia duduk hendaklah ia berbaring, sebagaimana perintah Rasulullah dalam sabda beliau : "Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah berbaring." (Al-Misykat 5114).


5.       Berlindung dari setan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya. Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemah lembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemah lembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya, bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Yang demikian ini telah disabdakan oleh Rasulullah dalam hadist berikut : "Tidaklah kelembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya jelek. "(HR. Muslim) Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai kelembutan, sebagaimana sabda Rasulullah: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyenangi kelembutan dalam segala urusan. Dan Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada kebengisan."(HR. Muslim). Bersegeralah menghiasi diri dengan akhlak terpuji yang dimiliki rasulullah dan dicintai Allah ini. Dan jauhilah kemarahan, kebengisan dan ketidak ramahan, karena yang demikian akan menghinakan derajat pelakunya dan membuat keonaran dikalangan manusia serta menimbun dosa disisi Allah ta’ala. Ingatlah selalu sabda Rasulullah : "Barangsiapa yang dihalangi untuk berakhlak lembut, maka ia akan dihalangi dari seluruh kebaikan."(HR Muslim). Wallahu a’lam


 


Read more..

RUMAH SETAN

Uncategories Comment( 2)









 


Setan merupakan jenis jin yang durhaka kepada Allah Swt. Setan sebagaimana manusia, kawin, beranak pinak,besekolah, bermasyarakat dan memiliki pemimpin. Yang unik, setan berumur sangat panjang, ratusan bahan ribuan tahun. Sementara manusia tidak. Bahkan sangat sedikit manusia yang umurnya mencapai  lebih dari ratusan tahun.


Pada diri setan tidak ada sedikit pun ketaatan untuk kepada Allah. Sedangkan manusia ada yang taat dan ada pula yang maksiat. Ketika manusia dalam keadaan sangat taat kepada Allah, derajatnya akan naik, lebih tinggi dari malaikat. Dan ketika manusia maksiat/ durhaka, maka derajatnya lebih rendah dari pada setan dan bianatng.


Dengan sifatnya yang dimiliki, setan selalu dan gemar hidup di tempat – tempat kotor, seperti WC, tempat pembuangan sampah, got – got, pasar – pasar dll. Ada tempat lain yang justru di jadikan rumah oleh setan dan keturunannya, antara lain :



  1. tempat yang didalamnya tidak ada suatu zikir (menyebut nama Allah)


 


Dimana pun berada, manakala disitu tidak ada gema/ suara zikir, maka disitulah setan tinggal. Jika ada manusia yang datang atau berdiam ditempat tersebut, mereka akan dijauhi oleh malaikat rahmat. Bahkan di hadapan Allah dan para malaikta-Nya, bau mereka lebih busuk dari pada bangkai. Rasullah Saw, mengumpamakan tempat itu, didalam hadist riwayat bukhari dan muslim sebagai berikut :


"perumpamaan antara rumah yang di dalamnya ada zikir dan kosong dari zikrullah, adalah bagaikan orang yang hidup dengan orang yang mati."


 



  1. Tempat yang didalamnya ada anjing


 


Islam adalah yang mencintai  kebersihan. Islam melarang umatnya memelihara anjing, karena banyaknya bahya yang di sebabkan olehnya. Anjing boleh dipelihara hanya untuk penjagaan pertanian.


Pahala, kebaikan penghuni tempat yang ada anjingnya, akan selalu berkurang setiap hari. Karena didalam nya setan pun tinggal. Malaikat rahmat segan dan tidak mau datang serta menjauhi tempat itu, yang merupakan rumah setan. Raulallah saw bersabda :


"malaikta tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar anjing." (HR Bukhari dan Muslim)


 



  1. Tempat nyanyian, musik dan alat musik


 


Orang bijak mengatakan, sudah menjadi sunatullah, bahwa kita semestinya menghibur jiwa dengan nyanyian atau lagu – lagu yang menyenangkan. Oleh karenanya islam memperbolehkan keberadaan nyanyian dengan syarat, bukan nyanyian bathil atau senandung cinta yang di iringi  musik. Islma menganjurkan nyanyian yang di ambil dari shalawat kepada Nabi Saw, pujian kepada Allah Swt. Sebagai penganti nyanyian yang di haramkan. Hal ini seiring dengan haramnya zina, dan dig anti dengan pernikahan. Haramnya judi, diganti dengan transaksi pegadaian.


Lagu – lagu, nyanyian, senandung cinta birahi yang diiringi musik, ibarat seruling setan yang telah Allah Swt, haramkan. Sungguh sangat rasional, jika empat yang didalamnya ditiupkan seruling, dipetik gitar, dan digesek biola, setan pun bertempat tinggal didalmnya.


Jika ada sekelompok manusia yang memperbolehkan  / menghalalkan nyanyain dan musik, ternyata ini sudah di sinyalir oleh rasullalh saw, dengan sabdanya :


"akan muncul dari umatku, sekolompok orang yang menghalalkan perzinaan, sutera, minuman keras, dan alat – alat musik ( seperti gitar, seruling, biola)."


 



  1. tempat bergambar atua berpatung


 


disetiap tempat yang terdapat gambar makhluk hidup atau patung, disanalah setan tinggal. Jika setan telah tinggal di suatu tempat, maka dijadikanlah olehnya sebagai rumah. Didalam hadis riwayat Bukhari, Aisyah r.a berkata, bahwa rasulallah Saw bersada :


"tidaklah engkau tahu, bahwa malaikat tidak akan memasuki rumah yang bergambar/berpatung. Dan perbuatannya akan disiksa pada hari  kiamat. Dan dikatankan kepadanya: hidupkanlah sesuatu yang telah kamu buat.!"


Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a menceritakan, bahwa rasullah SAW, telah berwasiat kepadanya : "hendaklah engkau menghancurkan patung"


 



  1. tempat bejudi dan bermabuk – mabukan


 


pelaku dosa akan jauh dari kasih saying Allah, ridha Allah dan do’a malaikat. Pemabuk, penjudi dan tempat dimana dijadikan pemabukan dan perjudian sangat dimurkai oleh Allah Swt. Akan tetapi sebaliknya tempat perjudian dan pemabukan justru didekati , didambakan dan dicintai oleh setan. Bahkan setan akan menepatinya sebagai rumah tinggal.


 


Selain yang tersebut diatas masih banyak lagi rumah-rumah setan yaitu : tempat yang didalamnya terdapat lonceng, tempat yang di dalamnya berkumpul barang – barang haram, dan tempat orang – orang  terkutuk yaitu orang yang melakukan suap – menyuap, memakan harta anak yatim, memakan riba dan sebagainya.


 


 


Read more..
design by Natty WP